Kepribadian Sehat Menurut Tujuh Tokoh Psikologi
Nama : Vanya Mareta Uli Pasaribu
Nim : 20310410021
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A
Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental, Program Studi Kesehatan Mental,
Fakultas Psikologi, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Kepribadian Sehat Menurut Tujuh Tokoh Psikologi
Apakah yang dimaksud dengan kepribadian yang sehat?
dan apakah anda adalah
pribadi yang sehat? mungkin
ini adalah pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas dalam suatu pandangan
yang mewakili pertanyaan dari banyak orang. Berikut rangkuman model-model
kepribadian sehat menurut tujuh tokoh psikologi.
Gordon Willard Allport
Allport dalam buku Agus Sujanto,
mendefinisikan kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu yang
terdiri atas sistem psikopisik yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas
terhadap lingkungannya. (Agus Sujanto, 2009 : 94). Dalam teorinya, Allport mengatakan bahwa
dorongan yang bersifat konstruktif sangat penting bagi orang-orang yang sehat
secara psikologis. Orang yang berkepribadian sehat dan matang selalu melihat ke masa
depan dan hidup dalam masa depan, mengejar tujuan-tujuan, harapan-harapan, dan
impian-impian secara aktif.
Allport (dalam Baihagi, 2008:91)
mengatakan bahwa kehidupan orang yang sehat senantiasa dibimbing oleh suatu
perasaan adanya maksud yang baik, dedikiasi yang matang, dan komitmen yang
kuat. Allport (dalam Schultz, 1995:25) mengatakan bahwa orang-orang yang matang
dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan
yang sedang atau hanya memadai. Mereka didorong untuk melakukan sedapat
mungkin, untuk mencapai tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam
usaha memuaskan motif-motif mereka. Allport (dalam Schultz, 1995:30)
mengatakan bahwa ada beberapa kriteria kepribadian yang matang, yaitu:
1)
Perluasan perasaan diri.
2) Memiliki
hubungan diri yang hangat dengan orang lain.
Menurut Allport
(dalam Baihaqi, 2008: 98) hubungan diri yang hangat dengan orang lain dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Kapasitas
keintiman
b. kapasitas untuk perasaan
terharu
3). Keamanan
emosional.
4) Pemahaman, kecakapan dan
pelaksanaan tugas yang realistik.
5) Memiliki
keterampilan dan tugas-tugas
6) Pemahaman diri yang
obyektif.
7) Filsafat hidup yang
obyektif
.
Carl
Ransom Rogers
Menurut Rogers pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu
berfungsi sepenuhnya. Mereka mampu mengalami secara mendalam keseluruhan emosi,
kebahagiaan atau kesedihan, gembira atau putus asa. Rogers menggambarkan pribadi yang
berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa
syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri
sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk
menerima diri dengan penuh kepercayaan. Menurutnya, kehidupan yang
baik adalah saat seseorang memiliki tujuan
untuk memenuhi semua
potensi yang ia
miliki sepenuhnya secara terus
menerus. Beberapa karakteristik
dari orang yang berfungsi sepenuhnya adalah:
1)
Meningkatnya keterbukaan terhadap pengalaman
2)
Kecenderungan terhadap hidup yang eksistensial
3)
Meningkatnya kepercayaan pada organisme
4)
Kebebasan memilih
5)
Kreativitas
6)
Konstruktif dan terpercaya
7) Kehidupan yang kaya warna.
Erich
From
Erich
Fromm melihat kepribadian sebagai suatu produk kebudayaan. Kepribadian itu
sehat atau tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang membantu atau menghambat
pertumbuhan dan perkembangan manusia yang positif. Erich
Fromm menjelaskan bahwa manusia yang berkepribadian sehat adalah manusia yang
produktif (berkarakter produktif), yaitu mereka yang mampu mengembangkan
potensi, memiliki cinta kasih, imaginasi, serta kesadaran diri yang baik. Orang tipe ini mencintai kehidupan dan ingin membentuk atau
mempengaruhi orang Iain dengan cinta, dengan akal dan contoh. Aspek-aspek kepribadian yang
sehat dengan orientasi produktif menurut Erich Fromm yaitu
cinta yang produktif, pikiran yang produktif, dan suara hati. Erich Fromm membedakan suara hati dalam 2 tipe yaitu suara hati otoriter dan suara
hati humanistis
Abraham Harold Maslow
aktualisasi-diri akan mengamati objek objek dan
orang-orang di lingkungan sekitarnya secara objektif. Dalam pandangan Maslow, semua manusia sejak lahir telah memiliki
kecenderungan dan perjuangan untuk mengaktualisasikan-diri (self-actualization).
Akan tetapi perjuangan untuk sampai pada tingkatan aktualisasi-diri, manusia
atau setiap individu harus berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan universal yang
tersusun dalam suatu tingkat dari kebutuhan yang paling kuat sampai kebutuhan
yang paling lemah.
Kebutuhan-kebutuhan universal manusia yang
dibuat secara bertingkat oleh Maslow seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
yaitu hierarki kebutuhan (hierarchy of needs). Lima kebutuhan dasar
yang tersusun secara hierarkis tersebut adalah sebagai berikut:
1) kebutuhan fisiologis
(physiological needs).
menurut Maslow kebutuhan ini merupakan
kebutuhan yang paling dasar dan paling kuat tekanan upaya pemenuhannya bagi
setiap individu sebelum pemenuhan kebutuhan di atasnya. Kebutuhan-kebutuhan
fisiologis meliputi makanan, air, oksigen, mempertahankan suhu tubuh, dan seks.
2) kebutuhan akan rasa aman
(safety needs).
Ketika setiap individu sudah terpuaskan
sebagian kebutuhan fisiologisnya, maka setiap individu mulai termotivasi untuk
memenuhi kebutuhan akan rasa aman, termasuk rasa aman fisik, ketergantungan,
perlindungan, dan kebebasan dari daya-daya mengancam, seperti perang,
terorisme, penyakit, rasa takut, rasa cemas, bahaya, kerusuhan, dan bencana
alam.
3) kebutuhan untuk dicintai dan
dimiliki (love and belonging needs)
Kebutuhan untuk dicintai dan dimiliki,
terwujud pada sebuah motivasi untuk bersahabat, keinginan memiliki pasangan dan
keturunan, dan kebutuhan untuk melekat pada sebuah keluarga, lingkungan
bertetangga dan berbangsa. Kebutuhan ini juga mencakup sejumlah aspek hubungan
seksual dan hubungan antar pribadi, seperti kebutuhan untuk memberi dan
menerima cinta
4) kebutuhan untuk
dihargai (self-esteem needs)
Setelah kebutuhan untuk dicintai dan dimiliki terpenuhi, maka manusia akan bebas untuk mengejar kebutuhan untuk dihargai ya
Carl Gustav Jung
Menurut Jung kondisi psikologis individu yang sehat ditandai dengan berhasilnya individu untuk mengintegrasikan kesadaran dan ketidaksadaran secara harmonis. Sehingga dalam pandangan Jung seseorang yang memiliki pribadi yang sehat adalah orang yang terindividuasi. Ada beberapa syarat menjadi pribadi yang terindividuasi:
Menjadi diri sendiri
Menjadi diri
sendiri artinya bukan hanya mengenali kesadaran, namun juga mengenali
ketidaksadaran diri sendiri. Mengenali ketidaksadaran bukan berarti diri kita
dikendalikan oleh ketidaksadaran itu, namun justru menerima ketidaksadaran
dengan sadar.
Menyeimbangkan sikap dan
fungsi psikologis yang ada dalam diri
pribadi yang sehat
mampu menyeimbangkan sikap yang ada dalam diri. Misalnya, jika pada usia 20
tahun, A adalah seorang yang ekstorver, maka pada usia dewasa harus menyadari
sisi introvernya untuk diungkapkan. Pribadi yang sehat juga mampu
menyeimbangkan fungsi psikologis yang ada dalam diri. Misalnya, jika tingkah
laku banyak dikendali-kan oleh pikiran selama ini, maka B harus juga menyadari
fungsi perasaan, intuisi, atau pengindraan.
Merubah archetype
Artinya, individu tidak perlu menampilkan topeng agar orang hanya melihat sisi baik saja (persona). Individu juga perlu menerima biseksualitas psikologis, yaitu mampu mengungkapkan sifat laki-laki dan wanita dalam dirinya, baik secara terpisah maupun secara bersamaan.
Victor Emil Frankl
Menurut Frakl, pribadi sehat adalah pribadi yang mampu menentukan makna hidup. Frankl menentang teori tntang kondisi manusia yang ditentukan dari isntink biologis dan konflik masa lalu melainkan tergantung dari kebebasan individu dalam menentukan pilihan. Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan kemudian setelah menemukan mencoba untuk memenuhinya. Menurut Frankl yang paling dicari dan diinginkan manusia dalam hidupnya adalah makna, yaitu makna yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan
Friedrich Solomon Peris
Orang-orang dengan kepribadian sehat tidak hidup dimasa lampau dan di masa depan. Perls mengatakan (Schulzt, 1993) bahwa kita harus hidup dimasa sepenuhnya pada masa sekarang, kita tidak boleh hidup pada masa lampau juga tidak hidup pada masa depan. akan tetapi kita boleh saja mengingat masa lampau untuk belajar darinya atau kita juga boleh saja membuat rencana-rencana untuk masa depan, tetapi fokus utama perhatian kita adalah dimasa kini, karena satu-satu nya yang nyata adalah masa kini
Daftar Pustaka
Ratu, Bau. (2010). PSIKOLOGI HUMANISTIK (CARL ROGERS) DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING. Jurnal Kreatif. Volume 17. (http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Kreatif/article/view/3349 diakses pada tanggal 25 November 2020 pukul 16.30 WIB)
Yonita, Ika. (2011). Keprbadian Tokoh Utama “ketika cinta bertasbih” Episode 1 Karya Habiburrahman El Shirazy Berdasarkan Teori Goldon Allport. Jurnal Artikulasi. Volume 12, No. 2. (http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jib/article/viewFile/1258/1347 diakses pada tanggal 25 November 2020 pukul 16.40 WIB)
Izzudin, Ahmad. (2018). Implikasi Lingkungan Keluarga Terhadap Pembentukan Kepribadian Siswa SDN 4 Gunung Rajak. Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 2, No. 1 (https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/fondatia/article/download/122/101 diakses pada tanggal 25 November 2020 pukul 17.00 WIB)
Indriana, Yeniar. (2005). Erich Fromm Tokoh Neo-Freudian. Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro. Semarang (http://eprints.undip.ac.id/21469/1/715-ki-fk-05.pdf diakses pada tanggal 25 November 2020 pukul 17.20 WIB)
Idrianto, Nino. (2018). Pemikiran Pendidikan Erich Fromm Tentang Perkembangan Kepribadian Anak. Jembe: LPM IAIN Jember. (http://lpm.iain-jember.ac.id/download/file/Nino_andrianto.pdf diakses pada tanggal 25 November 2020 pukul 17.30 WIB)
Hadori, Mohamat. (2015). Aktualisasi-Dir (Self Actualization); Sebuah Manifestasi Puncak Potensi Individu Berkepribadian Sehat. Jurnal Lisan Al-Hal. Volume 9, No. 2.(https://journal.ibrahimy.ac.id/index.php/lisanalhal/article/view/92/79 diakses pada tanggal 25 November 2020 pukul 18.15 WIB)
Zeky, Asri Atuz. Batubara, Zuliana. (2019). Terapi Bermain Menurut Carl Gustav Jung Dalam Mengatasi Permaslahan Anak. Jurnal Al-Taujih. Volume 5, No. 2.(https://media.neliti.com/media/publications/324503-terapi-bermain-menurut-carl-gustav-jung-92347196.pdf diakses pada tanggal 26 November 2020 pukul 04.00 WIB)
Dewi, Kartika Sari. (2012). E-book Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang, hal 75. (http://eprints.undip.ac.id/38840/1/KESEHATAN_MENTAL.pdf diakses pada tanggal 26 November 2020 pukul 04.25 WIB)
Pratiwi, Ika Wahyu. Bahari, Ratna Juwita Permana. (2017). Kebermaknaan Hidup Pemulung Di Jakarta. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Pengembangan SDM. Volume 6, No. 1. (https://ejournal.borobudur.ac.id/index.php/psikologi/article/viewFile/370/367 diakses pada tanggal 26 November 2020 Pukul 06.00)
Jason, Anthon. (2008). Model Kepribadian Sehat Dalam Buddhisme Maitreya. Yogyakarta. Hal 48-49 (https://repository.usd.ac.id/2659/2/019114167_Full.pdf diakses pada tanggal 26 November 2020 pukul 06.15)
Komentar
Posting Komentar